HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

Ketersediaan Air Kunci Ketahanan Pangan

  • Posted by admin
  • 24 October 2018

Sahabat Aetra, tanggal 16 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pangan Dunia. Tahun ini, hari pangan sudah menginjak ke-38 tahun. Hari Pangan Dunia memiliki harapan besar untuk memenuhi kebutuhan pangan yang merupakan hak bagi setiap orang. Hal ini sejalan dengan pasal 27 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa memperoleh pangan termasuk dalam hak asasi manusia yang harus terpenuhi.

 

Di Indonesia sendiri, pangan identik dengan beras sebagai kebutuhan pokok paling penting karena merupakan sumber utama pemenuhan gizi yang meliputi kalori, protein, lemak dan vitamin. Dengan pertimbangan pentingnya beras tersebut, pemerintah selalu berupaya untuk meningkatkan ketahanan pangan terutama yang bersumber dari produksi dalam negeri, salah satu caranya adalah dengan memperkuat ketahanan air.

 

Ketersediaan air akan sangat menentukan ketahanan pangan dan energi di masa depan. Menurut data, saat ini potensi air di Indonesia adalah 3,9 triliun meter kubik per tahun sedangkan yang bisa dimanfaatkan baru sekitar 691 miliar meter kubik, dengan rician; 81 persennya digunakan untuk mengairi lahan pertanian dan sembilan belas persen sisanya, digunakan untuk kebutuhan air baku, domestik, dan industri. Potensi air dalam jumlah banyak tersebut masih menjelmakan bencana banjir dan langsung terbuang percuma ke laut, sedangkan hutan-hutan semakin rusak sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik untuk menyimpan air. Namun saat ini Pemerintah mulai bergerak cepat melancarkan upaya konservasi air besar-besaran dengan membuat waduk-waduk kecil dan sedang. Ditargetkan hingga 2019 Pemerintah akan membangun 65 bendungan yang terdiri dari 16 bendungan lanjutan dan 49 bendungan baru. Selain itu, Pemerintah juga sedang memprogramkan pembangunan jaringan irigasi baru seluas 1 juta hektar dan merehabilitasi 3 juta hektar irigasi yang rusak.

 

Bendungan-bendungan ini akan sangat berguna, apalagi negara kita sering mengalami kekeringan atau kekurangan air pada musim kemarau di beberapa wilayah. Kelangkaan air (kekeringan) akan berakibat secara langsung pada kegagalan panen dan terganggunya ketahanan pangan. Saat surplus air pun bendungan ini akan berguna untuk menampung surplus air agar tidak menjadi masalah berupa musibah banjir ataupun gagal panen, dan surplus air ini jika tertampung diharapkan dapat digunakan atau diolah kembali.

 

Kemudian, apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan air untuk ketahanan pangan? Direktur Institut Hijau Indonesia (IHI) Chalid Muhammad mengatakan, bagi kita khalayak masyarakat bisa mulai melakukan beberapa hal paling sederhana tetapi berdampak besar untuk menjaga ketahanan air, yakni:

 

1. Mulai menggunakan air dengan bijak

 

Penting bagi kita menjadi “pahlawan” penyelamatan air dengan cara-cara sederhana dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mencegah terbuangnya air bersih secara percuma (saat tidak digunakan) dan segera perbaiki apabila terdapat bocoran pada pipa/keran/kloset di rumah.

2. Mengurangi berbagai kegiatan yang berdampak terhadap pencemaran air

 

Contoh yang paling menonjol dan banyak mempengaruhi kondisi air bersih yang memperihatinkan adalah membuang sampah sembarangan. Hindari membuang limbah domestik ke selokan-selokan yang mengalir langsung ke sungai. Selain akan mengganggu ekosistem sungai, juga akan berdampak pada kesehatan manusia.

3. Pembuatan sumur resapan air dan biopori di sekitar rumah.

 

4. Melakukan upaya penyelamatan hutan sebagai sumber-sumber kehidupan sekaligus sebagai sumber mata air serta menjaga keberlanjutan dan ketahanan pangan.

 

5. Beralih ke air perpipaan seperti Aetra Air Jakarta yang tidak mengeksploitasi air tanah sebagai air baku. Air baku Aetra Jakarta berasal dari air permukaan alias air sungai yang diterima dari Waduk Jatiluhur melalui Kalimalang, Jakarta Timur. Dengan demikian ketersediaan air tanah untuk masa depan kehidupan akan tetap lestari.