HOTLINE 24 JAM +62 21 86909999

Detail Sahabat Aetra

HARI AIR DUNIA 2018 MANFAATKAN ALAM UNTUK KELESTARIAN AIR

  • Posted by admin
  • 21 March 2018

Sahabat Aetra, pada 22 Maret 2018 ini menjadi tahun ke-26 dari peringatan Hari Air Dunia. Tema yang diangkat oleh UN-Water, badan antar lembaga PBB, untuk tahun ini adalah Nature for Water, yaitu mengeksplorasi solusi yang bersumber dari alam untuk menghadapi permasalahan air. Perlu kita sadari, aktivitas manusia banyak menyebabkan kerusakan ekosistem dan perubahan iklim (akibat pemanasan global dari efek rumah kaca) yang mendorong terjadinya krisis air di seluruh dunia. Vegetasi, tanah, sungai dan danau yang terdegradasi menyebabkan banjir, kekeringan, dan polusi air yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas air yang tersedia untuk konsumsi manusia.

 

Contohnya, di Somalia, Sudan, Nigeria, dan Yaman, 27 juta orang tidak mendapatkan akses air bersih. World Water Council bahkan mencatat bahwa kematian yang diakibatkan oleh air mencapai 3.5 juta jiwa, lebih tinggi dari kematian yang disebabkan oleh kecelakaan mobil dan AIDS. Air bersih mempengaruhi berbagai aspek manusia, dari kesehatan, pendidikan sampai mata pencaharian.

 

Solusi air bersih dengan kembali pada alam

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak mengerikan dari krisis air bersih? Solusi sesungguhnya sudah tersedia di alam. Salah satu contohnya, mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber air bersih dan pengendali banjir dengan kembali menanami hutan yang telah gundul, mencegah penyusutan situ, danau, embung, waduk sehingga kembali berfungsi sebagai tempat konservasi sumber daya air. Di perkotaan bisa dilakukan dengan menyeimbangkan penghijauan atau infrastruktur 'hijau' dengan infrastruktur 'abu-abu' (bangunan beton) sedapat mungkin. Pada perumahan bisa dilakukan dengan menyisakan minimal 10% lahan terbuka untuk penghijauan maupun untuk penyerapan air.

 

Solusi Air Aetra Jakarta Berbasis Alam

 

Aetra pun memahami pentingnya memberikan timbal balik kepada alam yang menjadi sumber kehidupan kita sehari-hari. Aetra percaya bahwa air, lingkungan dan bumi yang kita tinggali adalah hal yang harus kita jaga dan lestarikan dalam rangka meningkatkan kehidupan manusia. Maka dari itu, Aetra secara berkala melakukan penghijauan melalui kegiatan penanaman pohon sebagai wujud kepedulian terhadap alam.

 

Salah satu contohnya, pada bulan Oktober 2017, saat menghadiri acara HUT RPTRA IKAPOLA, Aetra juga telah melakukan penanaman 100 pohon berupa pohon produktif yaitu pohon mangga, rambutan, sirsak, sawo dan jambu air di sepanjang kali Jatikramat tepatnya di area Perumahan Pondok Kelapa Indah, Jakarta Timur.

 

Selain kegiatan menanam pohon, sejalan dengan komitmen Aetra untuk mengembangkan Perusahaan yang sehat secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sehingga memberikan Nilai Tambah bagi Pemangku Kepentingan, Aetra Air Jakarta sudah melakukan berbagai inovasi yang bertujuan untuk kelestarian dan kepedulian terhadap lingkungan, antara lain dengan membangun Decanter yang merupakan Sistem Pengolahan Limbah Cair Pertama di lingkungan PDAM di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara. Keberadaan Decanter merupakan upaya Aetra menuju zero waste untuk pengolahan limbah cair dalam rangka sertifikasi ISO 14.000 bidang lingkungan hidup tahun 2018.

 

Decanter dapat mengolah lumpur dengan kapasitas besar yang tidak membutuhkan lahan yang luas, Waktu pengolahan pun singkat karena mengolah limbah cair langsung menjadi lumpur kering, sehingga dapat langsung dibawa keluar dari area Instalasi Pengolahan Air. Pengoperasian dan perawatannya pun mudah dan murah. Sistem ini dikembangkan sendiri oleh ahli desain mesin anak-anak bangsa yang bekerja di PT Aetra Air Jakarta sebagai persembahan untuk dunia perair-minuman.

 

Selain Decanter, saat ini Aetra juga telah melakukan penerapan Biological Treatment atau Biofiltrasi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran. Biofiltrasi berbeda dengan filtrasi. Filtrasi hanya menyaring kotoran yang melayang, sedangkan biofiltrasi memakai mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut yang akan menguraikan limbah yang terlarut. Teknologi biofiltrasi diaplikasikan sebelum air diolah, yang meliputi penyaringan, penyesuaian pH, penjernihan dan penambahan klorine. Sumber air baku Aetra di IPA Buaran berasal dari Waduk Jatiluhur.  ‘Jarak tempuh’ perjalanan air baku yang cukup jauh dari waduk Jatiluhur sampai dengan intake (pintu masuk) IPA Buaran melalui aliran sungai Kalimalang, tentu dalam ‘perjalanannya’ dapat terkontaminasi dengan polutan, antara lain mengandung kadar amonia tinggi, deterjen dan limbah rumah tangga.

 

Proses sederhana Biofiltrasi dapat diilustrasikan sebagai berikut; di IPA Buaran terdapat bak-bak penampungan air yang memiliki fungsi masing-masing, sebagai bagian dari proses pengolahan air bersih Aetra. Di dalam satu bak dilakukan proses Biofiltrasi yang merupakan proses removal polutan amonium, detergen, dan mangan dengan menggunakan mikroorganisme alami yang hidup dalam air.

 

Sahabat, untuk menghadapi ancaman krisis air, kita tidak bisa menyerahkan begitu saja kepada pemerintah atau lembaga-lembaga yang berjuang untuk lingkungan. Seperti gerakan yang diambil Aetra Air Jakarta, kita harus mulai mengulurkan tangan dan peka terhadap lingkungan sekitar, terutama air - sebagai sumber kehidupan kita. Sekecil apapun kegiatan kita dalam melestarikan air apabila dilakukan secara bersama-sama dan terus-menerus maka akan memberikan dampak yang besar untuk dunia dan masa depan.

 

Selamat hari air dunia, Sahabat! :)